Senin, 07 Januari 2013

Ada dalam Tiada



Ketika surya mulai menghujamkan raga ke jantung dunia
Terhenyak kembali aku dalam rayuan nafas asmara
Terduduk di sampingmu merayu
Mencoba menghangatkan diri dalam dekapan
Saling menghangatkan hati dengan senyuman
            Bintang gemintang menampakkan diri seiring datangnya nirmala
            Bunga mentari seakan tak rela sang ibu meniada
            Cahaya kembali purna
            Tak menyisakan asa bagi bunga mentari yang kehilangan
Seiring datangnya sumber dari segala rasa yang menghantui
Membuncah ruah segala rasa dan memori
Alangkah engkau bertahan dalam kisah
Menyanyikan lagu sendu dalam nada yang ceria
            Cintailah diriku dengan sewajarnya
            Sebagaimana kekaguman umat kepada junjungannya
            Kedambaan rakyat kepada puteri yang jelita
            Kasih, sekasih seorang kekasih kepada yang terkasih
Jangan engkau cintai diriku lebih dari itu
Jangan kau berikan aku lebih dari yang aku mampu
Namun lidahku kelu sebelum ia sempat berlagu
Terjerat oleh kejujuran sinar matamu
            Cahaya telah pergi dari kediamannya
            Goresan awan memudar turun menjadi kabut yang kini menyelimuti dua jiwa
            Ditemani temaram cahaya lentera kami kukuh untuk bersama
            Kami habiskan malam bersama menikmati pucatnya sinar kasih rembulan
            Tenggelam dalam lautan kabutmu wahai awan
Suatu ketika cahaya akan kembali kepada kami
Ketika sang surya kembali menyapa bunga mentari
Dan petani kembali bercocok tanam di ladang serta memerah susu sapi
Tapi semua akan kembali pada gelap yang tak pernah abadi
            Dan begitulah seterusnya
            Sebuah siklus yang bertahan selamanya
            Semua akan kembali pada akhirnya
            Kembali ke tempat di mana mereka bermula
Aku dan kamu terjerat oleh ikatan sang waktu
Waktu yang merebut apa yang kita mau
Tak mampu mengejar, begitu saja ia berlalu
Tak mampu lepas meski kita terus mengadu
            Kita saling tahu dan saling mengerti
            Waktu akan mengambil setiap apa yang kita miliki
            Maka selama aku masih milikmu malam ini
            Dekaplah aku sebelum aku pergi
Sedikit tergelak aku melihat rembulan yang marah pada awan yang menutupi
Merasa iba aku mendapati layu bunga mentari
Terpejam mataku merasakan belai lembut sang bayu menaungi
Sementara api kecil dalam lentera menari-nari
Merasakan semilir hembus napas pertiwi
            Engkau merebahkan kepala di pundakku ketika aku tersadar
            Seakan gada Bima menghantam meremuk hati yang entah dimana adanya
            Hanya hampa yang menyelimuti nurani yang mengelana
            Gelap... Waktu... Kau.... Waktu...
Kini aku mengerti
Bahwa engkau yang selama ini mengisi relung jiwaku
Yang selalu hadir dalam setiap tangis dan tawaku
Ada hanya dalam tiada

Rabu, 02 Januari 2013

Siapa Mati?


Kota ini mati
Kemilau pijar cahaya memenuhi sudut kota
Tak memberi kesempatan bagi gelap untuk hidup
Memberi cahaya hingga di sudut kolong meja
Tapi tak mampu memberi cahaya bagi hidup kami

Kota ini mati
Mobil mewah beriringan mengantarkan pengantin baru menuju resepsi
Tawa bahagia memenuhi wajah pengiringnya
Tapi hanya mereka
Karena di sini kami masih berjuang untuk tidak mati

Kota ini mati
Para pelajar membawa buku menuju sekolah
Entah ilmu apa yang mereka tuntut
Ataukah hanya sekadar kepantasan di atas jerat status sosial
Kami tak pernah peduli, tak ingin peduli

Kami telah mati
Mereka berlalu lalang di sekitar bangkai kami
Berbincang ringan diselingi tawa riang
Tanpa beban hidup diselamatkan harta warisan
Sementara lalat dan belatung mengerumuni bangkai kami

Doaku Malam Ini


Wahai tuhan penguasa raya semesta
Raja bagi setiap jiwa yang menghamba
Penenang bagi hati yang letih menggayung pedih

Berikanlah hamba dan adinda
Ketenangan hati yang ber indukkan kasih
Yang lekang abadi hingga nanti kami mati

Serta berilah ia rasa bahagia
Meski aku telah tiada
Di malam ini ku berdoa

Ilusi Rintik Hujan


Hujan kembali mengetuk kediamanku
Mencegahku untuk beranjak pergi dari tempat malam menangis
Ia tak pernah berbicara meski sering mengajakku bercengkerama
Menjilat basah setiap sendi dan nadi
Menyayat kembali luka yang tak kan pernah berdarah


Sempat kucoba merangkul awan
Tapi ku dekati pun ia enggan
Terpaku aku di bumi
Hanya mampu menatap nya menyelubung alam
Tetap menghujani ku dengan tiap tetes yang tak terperikan

Tetaplah Aku


Aku mengenali dirku
Aku adalah aku, meski aku tidak sepenuhnya yang ku mau
Aku ingin menjadi aku
Aku yang ada dalam angan kelu
Aku sadar aku dan terkadang menyadari bahwa aku bukan diriku
Cukup bagiku untuk berharap agar aku mampu menjadi aku meski fakta begitu membisu
Ternyata aku adalah aku, meskipun aku bukanlah yang ku mau