Ketika surya mulai menghujamkan raga ke jantung dunia
Terhenyak kembali
aku dalam rayuan nafas asmara
Terduduk di
sampingmu merayu
Mencoba
menghangatkan diri dalam dekapan
Saling menghangatkan
hati dengan senyuman
Bintang gemintang menampakkan diri seiring datangnya nirmala
Bunga mentari seakan tak rela sang ibu meniada
Cahaya kembali purna
Tak menyisakan asa bagi bunga mentari yang kehilangan
Seiring datangnya
sumber dari segala rasa yang menghantui
Membuncah ruah
segala rasa dan memori
Alangkah engkau
bertahan dalam kisah
Menyanyikan lagu
sendu dalam nada yang ceria
Cintailah diriku dengan sewajarnya
Sebagaimana kekaguman umat kepada junjungannya
Kedambaan rakyat kepada puteri yang jelita
Kasih, sekasih seorang kekasih kepada yang terkasih
Jangan engkau cintai
diriku lebih dari itu
Jangan kau berikan
aku lebih dari yang aku mampu
Namun lidahku kelu
sebelum ia sempat berlagu
Terjerat oleh
kejujuran sinar matamu
Cahaya telah pergi dari kediamannya
Goresan awan memudar turun menjadi kabut yang kini menyelimuti dua jiwa
Ditemani temaram cahaya lentera kami kukuh untuk bersama
Kami habiskan malam bersama menikmati pucatnya sinar kasih rembulan
Tenggelam dalam lautan kabutmu wahai awan
Suatu ketika cahaya
akan kembali kepada kami
Ketika sang surya
kembali menyapa bunga mentari
Dan petani kembali
bercocok tanam di ladang serta memerah susu sapi
Tapi semua akan
kembali pada gelap yang tak pernah abadi
Dan begitulah seterusnya
Sebuah siklus yang bertahan selamanya
Semua akan kembali pada akhirnya
Kembali ke tempat di mana mereka bermula
Aku dan
kamu terjerat oleh ikatan sang waktu
Waktu
yang merebut apa yang kita mau
Tak
mampu mengejar, begitu saja ia berlalu
Tak
mampu lepas meski kita terus mengadu
Kita saling tahu dan saling mengerti
Waktu akan mengambil setiap apa yang kita miliki
Maka selama aku masih milikmu malam ini
Dekaplah aku sebelum aku pergi
Sedikit tergelak aku
melihat rembulan yang marah pada awan yang menutupi
Merasa iba aku
mendapati layu bunga mentari
Terpejam mataku
merasakan belai lembut sang bayu menaungi
Sementara api kecil
dalam lentera menari-nari
Merasakan semilir
hembus napas pertiwi
Engkau merebahkan kepala di pundakku ketika aku tersadar
Seakan gada Bima menghantam meremuk hati yang entah dimana adanya
Hanya hampa yang menyelimuti nurani yang mengelana
Gelap... Waktu... Kau.... Waktu...
Kini aku mengerti
Bahwa engkau yang
selama ini mengisi relung jiwaku
Yang selalu hadir
dalam setiap tangis dan tawaku
Ada hanya dalam
tiada