Selasa, 03 Desember 2013

Sebuah Perbincangan

PRIA
Aku masih di bawah pohon itu
Di dahan yang sama dan teduhnya
Menantimu, menyerah pada rindumu
Terbesit pilu di sudut manis kerlingmu
Tempat ternyaman dari ketiadaanku

- Ketiadaan

WANITA 
Aku pun masih di tempat yang sama
Cukup memandangmu di kejauhan
Tak perlu tegur sapa bila akhirnya menyakitkan
Mendapati kau tersenyum

PRIA
Lembayung senja manuskrip asmara
Hangat jingga warnanya menjadi pekat dengat getirnya
Bagai rinai hujan di penghujung kemarau
Akankah senyum itu milikku?
Mungkin hanya gurauan
Mungkin pula hanya ungkapan
Karena akulah sang kemungkinan itu

WANITA
Tersakitikah kau dengan sebuah kemungkinan?
Bukankah janji senja selalu palsu?
Mengantar keindahan meninggalkan kesakitan
Begitu pula kau dengan seribu kemungkinan itu
Begitu pula aku yang menikmati benih pedih kemungkinan yang kau tanam

PRIA
Sakit telah menjadi pemanis di sudut senyum sepahku
Pedih tertancap indah di gemulai tarianmu
Namun kaki ini mati
Lentingan tatapan itu membius sampai pati
Tak kuasa raga bersanding
Hanya kerikil tajam dan jiwa yang tergunjing
Senja itu menuju tengah malam

Malam kelam dengan dinginnya pelukan

Jumat, 15 November 2013

Anak yang lebih tua dari ayahnya

Anak itu meringkuk di sebuah etalase toko mainan
Menanti hujan mengharap keindahan sang mentari

Anak itu menggigil kedinginan
Berusaha menghangatkan diri dengan memeluk tubuh sendiri

"Hujan, cepatlah berhenti" batin si anak
Dan kemudian seorang pemuda gagah menghampirinya
Sambil mengulurkan tangan ia berkata

"Ayah, raihlah tangan puteramu"

Minggu, 21 Juli 2013

(Untitled)


Katakan padaku bagaimana
Harus kuungkapkan padamu
Kematian itu indah bagiku
Sementara kau lihat tubuhku hancur berantakan
Dan hanya kengerian tentang kematian yang tersisa dalam dirimu
Dulu, kasihku indah
Sedang cintamu sempurna
Namun kini hanya kau dan pakaian lusuhmu
Bersama hembusan nafas iba
Dan tatapan tak peduli orang-orang
Mengiring langkahmu menyusur labirin kota


Selasa, 28 Mei 2013

Senja Merah

Senja menari  sini, dalam sepi
Seakan langit tak mampu lagi menopang keagungan mentari
Sepi
Hanya kicau daun gugur yang mengisi kekosongan senja nestapa

Ah
Tak tahan aku merasakan keadaan yang seperti ini
Terikat jerat temali tanpa mampu melepaskannya
Menjeratku hingga titik dimana aku tak tahu lagi kemana aku harus melangkah

Wahai ufuk bumantara
Andai engkau mampu datang ketika aku terbangun dari tidurku
Membawakan senyuman hangatmu dengan segelas susu hangat ditanganmu
Dan aku menerima dekap tanganmu dalam kedamaian
Menikmati kelembutanmu
Andai saja

Dan kini tinggal sinar rembulan memelukku penuh kemesraan
Menciptakan bayang diriku yang hanya mampu duduk termenung

Cahaya rembulan hangat dan penuh dengan kasih sayang
Tapi mengapa aku tidak bisa merasakannya?
Justru karima yang kurasakan memberi dekapan
Membekukan

Oh cakrawala senja
Akankah kau pergi?
Hak apakah yang aku miliki untuk mencegahmu
Engkau memiliki langit yang di dalamnya engkau ada
Meski demikian tetap kau relakan dirimu menemaniku dalam loka fana
Apakah karena engkau merasa kasihan kepadaku
Ataukah . . .


Hanya sebuah harapan tentang waktu yang akan mempertemukan kita kembali yang mampu menopang ragaku tetap utuh di sini

Selasa, 21 Mei 2013

Dariku Untukmu


Aku
Terpaan sunyi malam di balik bayang sebuah bintang
Memadu utuh dalam satu

Sendu
Di balik nanar biru rerumputan
Tersimpan bayang kegelisahan mata
Terempas lara dalam luka
Mencerna kana mengurai makna
Meredam kata terburai nyawa

Senja
Mereda
Kata
Nyawa

Terpadu nyawa tertata makna
Selang nyawa menghardik cakra
Semu
Merayu kisah waktu

Senin, 18 Maret 2013

Seringai Para Raja


Hingga hari ini aku masih mencari arti akan sebuah makna
Tujuan yang ingin kurengkuh saat ini memang bukan tujuan semula
Meski aku yakin apa yang saat ini kucari adalah apa yang dicari setiap manusia
Tapi memang tujuanku selalu berubah seiring masa yang melewatiku

Aku tak pernah tahu tentang apa yang akan terjadi padaku nanti
Tapi aku berharap aku tidak akan pernah menyerah pada sebuah ketidak adilan
Aku berharap aku mampu melihat dibalik sebuah kebohongan
Walau aku harus mati
Tapi apa yang bisa aku lakukan bila aku telah mati?

Sementara aku menulis di sini
Di luar sana terjadi berbagai gejolak warna kehidupan
Ada seorang yang mati di jalan raya
Ada orang lain yang mati di gunung maha daya
Sedangkan aku di sini masih hidup
Meski tanpa sadar aku begitu rindu akan kematian

Tidak
Aku tidak ingin mati
Masih banyak hal yang harus aku selesaikan untuk hidup kita nanti
Masih banyak hal yang aku benahi demi kelangsungan hidup putera bumi
Masih banyak hal yang ingin aku mengerti

Mengapa mereka melakukan hal itu?
Mengapa mereka memaharajakan dia?
Mengapa kami bersalah?

Begitu banyak hal yang ingin kumengerti
Masih banyak hal yang harus kutahu
Selama ragaku masih mempu untuk mencari
Akan aku temukan semua jawaban itu
Pada akhirnya

Minggu, 17 Maret 2013

Aku di Suatu Ketika


Cahaya kecilku dimanakah dirimu?
Kemarilah mendekatlah padaku
Aku lelah dan ingin tidur dalam dekapmu
Aku ingin mati di dalam pelukmu
Melihat surga lewat mataku sementara ragaku tetap utuh di dunia
Sementara raga nistaku bersandar lemas pada tubuh sucimu
Meninggalkan semua insan pengisi batinku
Meninggalkan segala materi yang telah kuukirkan dalam kisahku
Meninggalkan purnama yang merefleksikan sinar mentari
Meninggalkanmu sendiri mengisi sepi di atas bumi

Senin, 07 Januari 2013

Ada dalam Tiada



Ketika surya mulai menghujamkan raga ke jantung dunia
Terhenyak kembali aku dalam rayuan nafas asmara
Terduduk di sampingmu merayu
Mencoba menghangatkan diri dalam dekapan
Saling menghangatkan hati dengan senyuman
            Bintang gemintang menampakkan diri seiring datangnya nirmala
            Bunga mentari seakan tak rela sang ibu meniada
            Cahaya kembali purna
            Tak menyisakan asa bagi bunga mentari yang kehilangan
Seiring datangnya sumber dari segala rasa yang menghantui
Membuncah ruah segala rasa dan memori
Alangkah engkau bertahan dalam kisah
Menyanyikan lagu sendu dalam nada yang ceria
            Cintailah diriku dengan sewajarnya
            Sebagaimana kekaguman umat kepada junjungannya
            Kedambaan rakyat kepada puteri yang jelita
            Kasih, sekasih seorang kekasih kepada yang terkasih
Jangan engkau cintai diriku lebih dari itu
Jangan kau berikan aku lebih dari yang aku mampu
Namun lidahku kelu sebelum ia sempat berlagu
Terjerat oleh kejujuran sinar matamu
            Cahaya telah pergi dari kediamannya
            Goresan awan memudar turun menjadi kabut yang kini menyelimuti dua jiwa
            Ditemani temaram cahaya lentera kami kukuh untuk bersama
            Kami habiskan malam bersama menikmati pucatnya sinar kasih rembulan
            Tenggelam dalam lautan kabutmu wahai awan
Suatu ketika cahaya akan kembali kepada kami
Ketika sang surya kembali menyapa bunga mentari
Dan petani kembali bercocok tanam di ladang serta memerah susu sapi
Tapi semua akan kembali pada gelap yang tak pernah abadi
            Dan begitulah seterusnya
            Sebuah siklus yang bertahan selamanya
            Semua akan kembali pada akhirnya
            Kembali ke tempat di mana mereka bermula
Aku dan kamu terjerat oleh ikatan sang waktu
Waktu yang merebut apa yang kita mau
Tak mampu mengejar, begitu saja ia berlalu
Tak mampu lepas meski kita terus mengadu
            Kita saling tahu dan saling mengerti
            Waktu akan mengambil setiap apa yang kita miliki
            Maka selama aku masih milikmu malam ini
            Dekaplah aku sebelum aku pergi
Sedikit tergelak aku melihat rembulan yang marah pada awan yang menutupi
Merasa iba aku mendapati layu bunga mentari
Terpejam mataku merasakan belai lembut sang bayu menaungi
Sementara api kecil dalam lentera menari-nari
Merasakan semilir hembus napas pertiwi
            Engkau merebahkan kepala di pundakku ketika aku tersadar
            Seakan gada Bima menghantam meremuk hati yang entah dimana adanya
            Hanya hampa yang menyelimuti nurani yang mengelana
            Gelap... Waktu... Kau.... Waktu...
Kini aku mengerti
Bahwa engkau yang selama ini mengisi relung jiwaku
Yang selalu hadir dalam setiap tangis dan tawaku
Ada hanya dalam tiada