Jumat, 27 Juli 2012

Awan


Aku adalah awan yang mampu menutup muka bumi
Menutupi keindahan sinar mentari
Hanya menyisakan sedikit cahayanya untuk makhluk bumi
Sering dikutuk sering dicaci
Selalu diminta untuk pergi
Namun apa daya aku tak bisa
Karena anginlah yang menentukan kemana aku kan pergi


Aku adalah awan yang datang untuk membawa hujan
Seringkali mengingatkan arti kerinduan
Menciptakan lagu sendu merayu kalbu
Basahi bumi basahi hati
Menyapu bersih serpihan mimpi

           
Aku tak tahu kemana ku harus pergi
Pergi ke timur aku hancur
Pergi ke barat aku terjerat
Di utara terhalang api membara
Dan selatan pun tiada sisa harapan
Sedangkan bila ku diam aku kan tertikam



Ingin aku menjadi sebuah mentari
Betatapun awan gelap yang datang tuk menutupi
Ia tetap mampu memberikan sisa sinarnya bagi makhluk bumi
Memberikan cahaya bagi sebuah hati
Menyinari harapan segala indah mimpi


Batu


Batu
Teronggok diam disamping tugu
Tetap terdiam di tengah orang yang lalu
Selalu terdiam hingga berakhirnya sang waktu

Batu
Kau biarkan derasnya hujan membasahimu
Kau biarkan terik mentari menghanguskanmu
S’lalu terdiam dalam gelapnya malam syahdu
Tetap terdiam dalam limpahan cahaya sendu
Tapi mengapa tak kau biarkan amukan badai menerbangkanmu?
Mengapa tak kau biarkan terjangan topan menggoyahkanmu?

Tak ada yang mengerti apa yang kau rasa
Tak ada yang tahu apa yang kau damba
Ttak ada yang melihat bahwa kau tersiksa
Bahwa kau kecewa dan terluka
Terbakar hebat dalam dendam yang membara
Bahkan jika kau mati pun tak akan ada yang mempedulikannya

Kau berfikir bahwa hidup ini seperti mimpi
Tak ada yang abadi
Semua akhirnya akan mati
Semua akan berakhir
Seperti ketika kita terbangun di pagi hari
Dimana segala indah mimpi
Musnah sirna tiada arti

Sesekali ada yang peduli
Mengatakan bahwa hidup ini bukanlah mimpi
Hidup ini tentang bagaimana kita berarti
Tentang cara kita untuk mengerti
Tentang seberapa dikenangnya ketika kita telah mati
Dan tentang seberapa hebat sejarah merekam kisah kita nanti

Tapi kau tetap teguh
Tetap utuh
Tak kan runtuh
Tak  mau patuh
Tak pernah mengeluh
Dan tetap berada dalam genangan air keruh

Tak habis pikir aku dibuatnya
Memang aku tak mengerti apa yang kau rasa
Tapi tidak biaskah kau berfikir seperti orang biasa?
Berfikir secara sewajarnya

Batu
Teronggok diam disampingku
Menunggu saat berakhirnya sang waktu

Persimpangan



Terdiam aku di tengah sebuah jalan
Terhentiaku di sebuah persimpangan
Arah mana yang harus ku ambil
Aku tak mengerti

Sedikit aku berpikir untuk kembali
Tapi yang ku capai sudah sejauh ini
Sedikit aku tertegun
Jalan mana yang harus ku pilih?

Kembali ku gali semua memori
Untuk apa aku disini
Bagaimana bisa aku sampai sejauh ini
Dan apa tujuan semua perjalanan ini

Sepotong demi sepotong memori kembali mengampiriku
Tapi, apakah semua itu bisa membantu
Aku sendiri pun tak tahu
Tapi tak akan ku biarkan memori itu berlalu

Ku pejamkan mataku
Ku hirup dalam-dalam segarnya udara ini
Membiarkan oksigen merasuk dalam paru-paru
Untuk mengalir ke seluruh tubuhku

Satu langkah ku ambil
Tapi sedikit aku meragu
Apakah aku benar harus kembali?
Lalu untuk apa semua perjuanganku selama ini?

Termenung ku sejenak
Lalu ku mantapkan langkahku
Resiko apapun yang akan menghampiri
Akan kujalani dengan sepenuh hati

Hidupku adalah pilihanku
Karena itulah aku tak akan menyesal
Apapun yang akan menghadang
Dengan dada membusung semua kan ku tantang

    

Pelangi Senja


Ku merenung dalam heningnya senja
Menatap langit temaram berwarna jingga
Tanpa mengerti apa yang ku rasa
Dalam diam ku merenung
Menyelami kisah hidupku yang t’lah lalu
Berpetualang dalam samudera memori

Sejenak ku tersentak
Terkejut akan kenangan yang terkadang aku lupakan
Teringat ku kembali tentang luka masa lalu
Namun aku tak jera
Kembali ku merenung menatap masa lalu
Berharap untuk menemukan sesuatu yang t’lah ku lupa

Entah kenapa terasa rindu akan segala kenangan itu
Kenangan tentang rasa senang, sedih, maupun kecewa
Semua bersatu dalam rasa bahagia
Semua berbaur dalam sebuah kenangan terindah
Satu masa yang tak kan terlupa
Masa indah dalam hiasan warna putih serta kelabu

Sedikit penyesalan terasa dalam benak kalbuku
Tersesal aku di senja hari
Mengapa tidak sedari dulu aku menciptakan kenangan itu?
Menciptakan segala moment istimewa bersama mereka
Menikmati setiap serpihan waktu bersama

Andaikan tuhan memberikan satu kesempatan lagi
Sudah pasti ku gunakan untuk bersama mereka
Kembali menikmati indah waktu kita
Sendauan dan gurauan
Canda dan tawa
Tak akan ku biarkan tuk sirna
Tak akan ku siakan setiap keping waktuku

Tapi segera kuhapus segala rasa itu
Karena samar ku melihat semburat instrument tujuh warna
Berdiri tegak di ufuk nirmala senja
Menjulang tinggi setinggi anganku
Terpampang jauh dari timur sampai ke barat
Keindahan yang ku pikir merupakan fatamorgana

Ya, aku melihat pelangi di sisa akhir waktuku
Segera tersirat dalam benakku segala euforia kebersamaan kita
Tentang kebersamaan dalam canda tawa
Indah dan memberi kehangatan dalam jiwa
Tanpa sedikit pun rasa sesal dalam dada

Sedikit aku tertegun
Tak ada gunanya menyesali semua itu
Karena yang lalu akan tetap berlalu
Kini aku tersenyum melihat cipta karya sang kuasa
Aku berdiri sendiri
Berdiri tegak di puncak menara haraan
Menatap jauh ke dalam instrument warna pelangi senja



Note :
Sebuah puisi yang saya dedikasikan untuk seluruh teman saya semasa SMA. Puisi ini saya buat untuk memenuhi tugas ujian praktek Bahasa Indonesia :P