PRIA
Aku masih di bawah pohon itu
Di dahan yang sama dan
teduhnya
Menantimu, menyerah pada rindumu
Terbesit pilu di sudut manis kerlingmu
Tempat ternyaman dari ketiadaanku
- Ketiadaan
WANITA
Aku pun masih di tempat yang sama
Cukup memandangmu di kejauhan
Tak perlu tegur sapa bila akhirnya menyakitkan
Mendapati kau tersenyum
PRIA
Lembayung senja manuskrip asmara
Hangat jingga warnanya menjadi pekat dengat getirnya
Bagai rinai hujan di penghujung kemarau
Akankah senyum itu milikku?
Mungkin hanya gurauan
Mungkin pula hanya ungkapan
Karena akulah sang kemungkinan itu
WANITA
Tersakitikah kau dengan sebuah kemungkinan?
Bukankah janji senja selalu palsu?
Mengantar keindahan meninggalkan kesakitan
Begitu pula kau dengan seribu kemungkinan itu
Begitu pula aku yang menikmati benih pedih kemungkinan yang kau tanam
PRIA
Sakit telah menjadi pemanis di sudut senyum sepahku
Pedih tertancap indah di gemulai tarianmu
Namun kaki ini mati
Lentingan tatapan itu membius sampai pati
Tak kuasa raga bersanding
Hanya kerikil tajam dan jiwa yang tergunjing
Senja itu menuju tengah malam
Malam kelam dengan dinginnya pelukan