Jumat, 27 Maret 2015

Kemana Kau Mencariku

Malam begitu larut dan kau masih belum beranjak
Kenapa kau tidak pulang, tanyaku
Aku sudah di rumah
Justru itu jawabmu

Kemanakah kau mengembara bila bumi ini adalah rumahmu?
Kenapa aku harus mencari bila kau selalu ada di situ?

Berikan aku bulan
Dan akan kusinari kau dalam kegelapan
Kataku

Berikan aku rumah
Maka akan kukembarakan diriku hingga ujung semesta
Katamu

Ah, sudah sejauh mana dirimu pergi?
Apakah aku harus mencari?


Yogyakarta, 28 Maret 2014

Minggu, 25 Januari 2015

DORRR!!!

DORRR!!!
Dari jauh dentuman itu terdengar lagi
Lariii! Teriak orang-orang panik
Anak mati
Bapak mati
Rekan mati
Panik! Aku panik!
Peluru-peluru itu memburu jantung dan kepalaku
Lari! Harus lari!
Atau aku akan mati
DORRR!!!
Peluru itu menembus otakku
Mati
Aku mati
Tapi embun tetaplah lembut
Tapi rumput tetap hijau
Dan langit malam masih memperlihatkan bintang-bintang

Yogyakarta, 23 Januari 2015

Heninglah Senja

Heninglah senja
Karena ku bukanlah siapa
Tanpa dia dan segala angannya
Janjiku sekadar kata
Dengan dia yang telah tiada
Maka pantaskah kau sebut aku manusia?
Ke timur aku menuju
Dalam gelap pengapnya rawa
Dan di antara hijau pegunungan
Tempat kabut lembut menari
Hingga ku temukan diriku kembali

Boyolali, 1 Januari 2015

Sabtu, 04 Oktober 2014

Secarik Wajah

Kembali ku tatap cermin usang di dinding rumahku
Selalu terlihat wajah lelah yang sama
Wajah sesosok diri yang aku yakin adalah aku

Kembali aku bertanya tentang makna
Apa arti sebuah perayaan besar
Bila ia tak memberi kebahagiaan bagi orang yang membutuhkan
Sedangkan aku masih terhantui beribu tanya tentang diri itu

Kembang api menyeruak langit malam
Meledaklah ia hingga tubuhnya terbentang luas menyiangi langit perayaan
Namun itu tak menjawab sebuah pertanyaan tentang embun dan batu tua
Membiarkanku mereka diri dalam hiruk pikuk imajinasi
Atau mungkinkah itu ilusi?

Boyolali, 4 Oktober 2014

Jumat, 19 September 2014

Sebongkah Diri

Ini adalah sajak
Tentang nafas yang menemaniku
Tentang darah yang menghangatkanku
Tentang jemari yang mencabik
Tentang mata yang menipu
Tentang wajah berlalu
Tentang lidah yang menghianati
Tentang sukma
Tentang nyawa
Tentang jiwa

Kamis, 09 Januari 2014

Sajak Kesendirian

Bila malam adalah kawan
Akan selalu kugenggam ia biar tidak pergi

Pagi itu manis
Tapi tak pernah ia menyapaku
Ah, mentari pagi
Enggan nian engkau menatapku

Selasa, 03 Desember 2013

Sebuah Perbincangan

PRIA
Aku masih di bawah pohon itu
Di dahan yang sama dan teduhnya
Menantimu, menyerah pada rindumu
Terbesit pilu di sudut manis kerlingmu
Tempat ternyaman dari ketiadaanku

- Ketiadaan

WANITA 
Aku pun masih di tempat yang sama
Cukup memandangmu di kejauhan
Tak perlu tegur sapa bila akhirnya menyakitkan
Mendapati kau tersenyum

PRIA
Lembayung senja manuskrip asmara
Hangat jingga warnanya menjadi pekat dengat getirnya
Bagai rinai hujan di penghujung kemarau
Akankah senyum itu milikku?
Mungkin hanya gurauan
Mungkin pula hanya ungkapan
Karena akulah sang kemungkinan itu

WANITA
Tersakitikah kau dengan sebuah kemungkinan?
Bukankah janji senja selalu palsu?
Mengantar keindahan meninggalkan kesakitan
Begitu pula kau dengan seribu kemungkinan itu
Begitu pula aku yang menikmati benih pedih kemungkinan yang kau tanam

PRIA
Sakit telah menjadi pemanis di sudut senyum sepahku
Pedih tertancap indah di gemulai tarianmu
Namun kaki ini mati
Lentingan tatapan itu membius sampai pati
Tak kuasa raga bersanding
Hanya kerikil tajam dan jiwa yang tergunjing
Senja itu menuju tengah malam

Malam kelam dengan dinginnya pelukan