Selasa, 03 Desember 2013

Sebuah Perbincangan

PRIA
Aku masih di bawah pohon itu
Di dahan yang sama dan teduhnya
Menantimu, menyerah pada rindumu
Terbesit pilu di sudut manis kerlingmu
Tempat ternyaman dari ketiadaanku

- Ketiadaan

WANITA 
Aku pun masih di tempat yang sama
Cukup memandangmu di kejauhan
Tak perlu tegur sapa bila akhirnya menyakitkan
Mendapati kau tersenyum

PRIA
Lembayung senja manuskrip asmara
Hangat jingga warnanya menjadi pekat dengat getirnya
Bagai rinai hujan di penghujung kemarau
Akankah senyum itu milikku?
Mungkin hanya gurauan
Mungkin pula hanya ungkapan
Karena akulah sang kemungkinan itu

WANITA
Tersakitikah kau dengan sebuah kemungkinan?
Bukankah janji senja selalu palsu?
Mengantar keindahan meninggalkan kesakitan
Begitu pula kau dengan seribu kemungkinan itu
Begitu pula aku yang menikmati benih pedih kemungkinan yang kau tanam

PRIA
Sakit telah menjadi pemanis di sudut senyum sepahku
Pedih tertancap indah di gemulai tarianmu
Namun kaki ini mati
Lentingan tatapan itu membius sampai pati
Tak kuasa raga bersanding
Hanya kerikil tajam dan jiwa yang tergunjing
Senja itu menuju tengah malam

Malam kelam dengan dinginnya pelukan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar